Belum ada judul
Perkenalannya dengan pria itu ternyata semakin dekat, dan pria itu juga semakin baik kepadanya dengan membawakan apa yang dia sebut ‘reading materials as a gift”. Huda mengaku, pria itu memberi berbagai buku-buku kecil (booklets).
Dan hanya dalam masa sekitar tiga bulan ia mempelajari Islam, termasuk berdiskusi dengan pria tersebut. Huda merasa bahwa inilah agama yang akan menyelamatkannya.
“Pria tersebut bersama isterinya, yang ternyata telah mempunyai 4 orang anak, mengantar saya ke Islamic Center terdekat di Michigan. Imam Islamic Center itu menuntun saya menjadi seorang Muslimah, alhamdulillah!”, kenang Huda dengan muka yang ceria.
Tapi untuk minggu-minggu selanjutnya, kata Huda, ia tidak komunikasi dengan pria tersebut. Huda mengaku justeru lebih dekat dengan isteri dan anak-anaknya. Kebetulan lagi, anaknya juga berusia tiga tahun, maka sering pulalah mereka bermain bersama. “Saya sendiri belajar shalat, dan ilmu-ilmu dasar mengenai Islam dari Sister Shaima, nama isteri pria yang mengenalkannya pada Islam itu.
Kejamnya Poligami
Suatu hari, dalam acara The Islamic Forum, minggu lalu, datang seorang tamu dari Bulgaria. Wanita dengan bahasa Inggris seadanya itu mempertanyakan keras tentang konsep poligami dalam Islam. Bahkan sebelum mendapatkan jawaban, perempuan ini sudah menjatuhkan vonis bahwa “Islam tidak menghargai sama sekali kaum wanita”, katanya bersemangat.
Huda, yang biasanya duduk diam dan lebih banyak menunduk, tiba-tiba angkat tangan dan meminta untuk berbicara. Saya cukup terkejut. Selama ini, Huda tidak akan pernah menyelah pembicaraan apalagi terlibat dalam sebuah dialog yang serius. Saya hanya biasa berfikir kalau Huda ini sangat terpengaruh oleh etike Timur Tengah, di mana kaum wanita selalu menunduk ketika berpapasan dengan lawan jenis, termasuk dengan gurunya sendiri.
“I am sorry Imam Shamsi”, dia memulai. “I am bothered enough with this woman’s accusation”, katanya dengan suara agak meninggi. Saya segera menyelah: “What bothers you, sister?”. Dia kemudian menjelaskan panjang lebar kisah hidupnya, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kemudian hamil di luar nikah, bahkan hingga kini tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini berumur hampir 4 tahun itu.
Tapi yang sangat mengejutkan saya dan banyak peserta diksuis hari itu adalah ketika mengatakan: “I am a second wife.” Bahkan dengan semangat dia menjelaskan, betapa dia jauh lebih bahagia dengan suaminya sekarang ini, walau suaminya itu masih berstatus suami wanita lain dengan 4 anak. “I am happier since then“, katanya mantap.
Dia seolah berda’wah kepada wanita Bulgaria tadi: “Don’t you see what happens to the western women around? You are strongly opposing polygamy, which is halaal, while keeping silence to free sex that has destroyed our people” ,jelasnya. Saya kemudian menyelah dan menjelaskan kata “halal” kepada wanita Bulgaria itu.
“I know, people may say, I have a half of my husband. But that’s not true“, katanya. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa poligami bukan hanya masalah suami dan isteri. Poligami dan kehidupan keluarga menurutnya, adalah masalah kemasyarakatan. Dan jika seorang isteri rela suaminya beristeri lagi demi kemaslahatan masyarakat, maka itu adalah bagian dari pengorbananya bagi kepentingan masyarakat dan agama.
Kami yang dari tadi mendengarkan penjelasan Huda itu hanya ternganga. Hampir tidak yakin bahwa Huda adalah isteri kedua, dan juga hampir tidak yakin kalau Huda yang pendiam selama ini ternyata memiliki pemahaman agama yang dalam. Saya kemudian bertanya kepada Huda: “So who is your husband?(siapa gerangan suamimu)” Dengan tertawa kecil dia menjawab “the person who introduced me to Islam (ia adalas seseorang yang memperkenalkanku dengan Islam”. Dan yang lebih mengejutkan lagi ia menambahkan : “his wife basically suggested us to marry” (istrinyalah yang menyarankan kami untuk menikah), dan ini menutup pembicaraan hari itu.
Kalimatul Haqqi Yuurodhu Bihaa Baathilun
Perang pemikiran (ghazwul fikri) adalah strategi perang gaya baru yang digunakan pihak-pihak yang memusuhi Islam untuk merusak nilai-nilai ajaran Islam. Inilah peperangan dahsyat yang tidak menggunakan senjata, dan tidak menggunakan kata-kata permusuhan secara jelas, tidak secara jelas menampilkan jati diri pelakunya, bahkan dapat menggunakan umat Islam sendiri (yang memiliki pemikiran liberalis-sekularis) sebagai pelaku peperangan tersebut.
Perang pemikiran oleh musuh Islam sudah mencapai jantung Islam, sudah menyerang inti ajaran Islam, yaitu bagian penting dari akidah Islam, sudah menggoyahkan prinsip-prinsip dalam keimanan. Perang pemikiran menyebabkan kemungkaran pemikiran dan kemungkaran akidah, yang kapasitasnya jauh lebih berbahaya dibanding kemungkaran muamalat semacam perjudian, pelacuran, narkoba dan semcamnya.
Salah satu bentuk strategi perang pemikiran tersebut adalah menyampaikan kalimat-kalimat kebaikan / kebenaran tapi memiliki tujuan buruk yang hampir-hampir tidak terlihat keburukannya. Beberapa contoh sederhana dibawah ini adalah untuk menggambarkan contoh-contoh kalimat yang kelihatan berisi kebaikan tersebut, dari yang paling sederhana hingga yang berpotensi besar merusak pemikiran.
-
Archives
- September 2009 (3)
- August 2009 (3)
- November 2008 (1)
- October 2008 (1)
- May 2008 (3)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS